<img src="http://path-mkgapi.kakao.com/dn/path_classic/photos2/69353560-e036-4120-b160-74df7ae08e87/original.jpg" />
Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera and Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) request the pleasure of your company to join this international lecture.

Due to limited seats, please confirm your attendance on March 15, 2016, at the latest, to Ms. Puska Phone: 021-83701809/ 085711139361.
View on Path

Kita hidup di masa seringkali-apa-yang-terlintas-di-dalam-pikiran-ingin-serta-merta-kita-luapkan-segalanya-dalam-kehidupan-nyata.

Ya, supaya semua orang melihatnya, meskipun mereka belum tentu perlu mengetahui dan tak ingin jadi peduli.

Beruntunglah sebagian dari kita memiliki penyaring yang baik sehingga mampu memilah mana yang pantas dituangkan dari benak, dan mana yang kurang ataupun tidak sama sekali.

Beruntunglah bagi kita yang hidup tentram dan tetap waras dengan senantiasa mampu mengendalikan tutur kata dan perilaku diri.

<img src="http://stickers-assets.path.com/shop/products/stickers/jakeorama/28/db5859/1x.png" />
View on <a href="https://path.com/p/464owW">Path</a>

Masih inget sama film Limitless yang diperankan oleh Bradley Cooper pada 2011 lalu?

Kalau kalian suka banget sama film ataupun pemeran utamanya itu, sebentar lagi akan ada serialnya, lho! Tayang perdana di K-Vision lusa alias Rabu, 22 September 2015 pukul 19.00 wib. Saya juga suka banget sama filmnya, makanya jadi penasaran dan udah nggak sabar pengin ngikutin episode-episodenya.

Di serial ini, kalian akan temu-kangen dengan Mas Bradley Cooper tapi juga kenalan sama aktor lain yang gak kalah keren, Jack McDorman. Selain itu, kalian akan menyimak kasus-kasus yang timbul akibat NZT-48, nama pil yang mampu memaksimalkan kemampuan otak manusia sampai 100%. Kebayang kan serunya?!

Nah, buat yang belum berlangganan K-Vision, bisa cek caranya di http://www.k-vision.tv atau kontak 500-828.

Selamat nonton, ya! 🙂

Limitless (The Series)

Listening to the music of my favorite song is like entering a trusted clinic, knowing the lyrics are like getting a receipt from the doctor, and singing along to the end of the melody is like having the best medicine. 
A cure from the tuneless sounds of the world and such ugly heart person’s words.

Why I sing

<img src="http://images.path.com.s3.amazonaws.com/photos2/70e0e39f-8301-41d6-8a38-7f33eae50c87/original.jpg" />
#PerjalananMbakSri

Sebuah perjalanan untuk memperjuangkan hak dan advokasi difabel oleh Sri Lestari sejauh 1871 km menggunakan sepeda motor modifikasinya.

Untuk tahu lebih lanjut tentang perjalanan ini dan memberikan dukungan kepada Mbak Sri, silakan klik:

https://kitabisa.com/perjalananmbaksri
View on Path

Jangan terkecoh dengan judul tulisan ini. Bacalah sampai tuntas, meskipun saya tidak berharap dan tak ingin berusaha agar yang membaca akan dapat langsung mengerti.

Saya akan menuliskan ini dengan kepala dingin dan sangat hati-hati, meskipun sekadar untuk mengungkapkan dengan jujur tentang sesuatu bernama isi hati.

Saya akan menyatakan ini dengan penuh upaya ketabahan, sebagaimana saya terbiasa mengendalikan diri dalam menyampaikan sesuatu yang saya tidak sukai, tanpa perlu diselubungi kemarahan dan berbagai bentuk emosi.


Saya tidak ingin lagi berteman,

dengan seseorang yang membuat saya tidak mampu merawat ketenangan dan ketabahan, atau dengan kata lain “hilang kesabaran”.

Saya tidak ingin lagi berada dalam hubungan pertemanan,

dengan seseorang yang merasa harus-harus-HARUS memiliki segala informasi tentang saya dan tidak menghargai privasi. Apakah dengan usia sekian itu ia masih harus belajar dari dasar, bahwa berteman dekat dan berbagi banyak cerita dan curahan hati, bukan berarti sang teman wajib mencurahkan seluruh sejumlah hal dan kisah pribadi yang ingin temannya simpan sendiri?

Saya tidak ingin lagi berteman,

tapi mengalami teror kecil yang tidak penting dan sangat memalukan akibat tidak ingin berbagi cerita. seperti misalnya ketika ia kemudian muncul, mengganggu, dan mengomentari sejumlah postingan sosial media path saya, berikaita dengan hubungan dengan seorang lelaki yang belum tentu (atau bisa jadi sebenarnya tidak) ingin saya ceritakan kepadanya.

Saya tidak ingin melanjutkan pertemanan,

dengan seseorang yang entah bagaimana ia bisa-bisanya menyimpulkan bahwa saya merasa insecure dengan teman-teman saya, padahal antara kami baik-baik saja. Sangat lucu dan kontradiktif sekali dengan sikapnya sekian tahun belakangan yang justru terlihat posesif dengan teman-temannya sendiri.

Saya tidak ingin lagi berteman,

dengan seseorang yang membuat delusi dalam pikirannya bahwa saya merasa iri atau tersaingi dengan kehadirannya di antara teman-teman. Sebuah penyakit pikiran yang menjangkiti dirinya entah dari kapan, bahkan saya sayangkan muncul dari orang yang bahkan saya ingin dan biarkan ikut menjadi bagian dalam hubungan-hubungan pertemanan saya.

Saya tidak ingin lagi berteman,

dengan seseorang yang lama-kelamaan membuat saya tertular pikiran negatif, dengan memberikan dan mempengaruhi pandangan-pandangan kurang baik tentang orang lain yang belum tentu benar, bahkan terhadap orang-orang yang ia sama sekali tidak kenal, atau yang tidak begitu ia kenal. Tak kenal maka tak benar, sudah kenal pun tetap mengabarkan yang tak benar.

Saya tidak ingin lagi berteman,

dengan seorang penimbun dendam terhadap ucapan, pendapat, sikap, dan tindakan orang-orang lain yang pada dasarnya bermaksud baik namun tidak bisa ia terima, ia tidak mampu untuk sedikitpun belajar menerima dan meredam.

Saya tidak ingin lagi berteman,

dengan seseorang yang ketika bermasalah dengan seseorang kemudian meneror orang tersebut dengan makian, hinaan dan kata-kata kotor yang begitu panjang, dengan isi yang seringkali bahkan bukan berupa alasan masuk akal melainkan kalimat-kalimat yang dia sendiri akui tidak relevan.

Saya tidak ingin lagi berteman,

dengan seseorang yang kemudian juga memberikan semacam ancaman, bahwa saya ‘berperang’ atau ‘melawan’ orang yang salah. sehingga seolah jika ada yang bermasalah dengannya, seseorang itu akan sangat menyesal dan kalah. Saya sungguh mengasihani dan prihatin dengan ancaman ini.

Saya tidak ingin lagi berteman,

dengan seseorang yang ketika sudah tidak terima dan membenci orang lain, ia akan menghantui dengan berbagai sindiran di kolom komentar path teman-teman saya (berharap perhatian bahwa saya akan melihat dan membacanya), atau mempengaruhi sejumlah teman dengan pikiran dan pandangan negatifnya tentang saya, mencoba membuat mereka ikut tidak menyukai saya. Namun saya tetap meyakini, teman yang benar-benar baik tidak akan mudah termanipulasi.

Saya tidak ingin lagi berteman,

dengan seseorang yang memberikan harapan buruk dan sumpah-serapah atas kebencian tidak jelasnya terhadap hubungan saya dengan teman dan pasangan. Padahal sesungguhnya ia hanya merefleksikan kegagalan hubungannya dengan sejumlah teman dan yang lebih dari teman.

Saya tidak ingin lagi berteman,

dengan seseorang yang saya ketahui bahwa teman-temannya tentu ingin hubungan pertemanan yang baik-baik saja, sementara lelaki-lelakinya bisa jadi mau yang enak-enak saja. Tidak heran kalau mereka yang sudah benar-benar tidak tahan, kemudian memilih untuk menghilang bila ia telah memperlihatkan dirinya yang begitu mengerikan.


Saya bersyukur,

tidak pernah sekalipun mengalami kehilangan teman dan pasangan seperti yang berkali-kali ia alami, akibat ucapan dan perbuatan buruknya sendiri terhadap mereka, termasuk kepada saya. Yang terjadi setiap waktu justru saya mampu menepis menepis jauh-jauh orang-orang yang kurang dan bahkan tidak baik dari sekitar saya.

Semoga saya cukup sekali dalam hidup mengalami hubungan pertemanan yang seperti demikian.

Terakhir.

saya tidak ingin lagi berteman,

dengan seseorang yang memiliki kecederungan psikopat.

Tapi semoga ada –barangkali di antara kalian yang membaca ini juga– yang dapat segera menyadarkannya bahwa ia sesungguhnya harus ‘berobat’.

 

🙂

 

Saya Tidak Ingin lagi Berteman

Posted in Baris-baris Berpuisi, Random Writing

Selamat Harimu, Ibu.

Ada saat-saat aku merasa sangat ingin untuk mencurahkan apa yang ada dalam pikiran atau isi hati dalam beberapa rangkaian kalimat. Di antaranya, saat ini.

Ibu, mereka bilang ini harimu…

Ini adalah tahun ketiga aku tak dapat lagi mengucapkannya secara langsung kepadamu.

Kala sebagian orang mengucapkan Ibu masing-masing sebait kata-kata indah, mengecup dan memeluk beliau saat bersama di rumah, ada beberapa orang yang hanya mampu mengirimkan Al-Fatihah.

Jika mereka memberikan sekuntum atau sebuket bunga yang disambut langsung oleh genggaman tangan Ibunda, ada yang hanya dapat menyerahkannya dalam taburan kelopak-kelopak di atas rumah terakhir ibunya berada.

Maka dengan hati yang mencoba tabah, kulayangkan ini ke udara.
Berharap angin dapat membawa dan menyampaikannya segera.
Yang kutahu hanya dengan beginilah satu-satunya cara,
Meluapkan segala yang tengah terasa, meski tanpa bicara.

Rindu.